Minggu, 28 Oktober 2012


*Inilah Kotaku*

Kota yang tak pernah lengang, Kota yang padat, Kota yang tingkat polusinya melebihi kota-kota besar lainnya, Kota dengan tingkat kriminalitasnya tinggi, Kota dengan... dengan... Namun kota ini memliki magnet bagi mereka yang tinggal di daerah untuk berbondong-bondong menetap dan mengais rezeki, yang pada kenyataannya apa yang mereka dapatkan tak seindah yang di bayangkan...
Ya! Begitulah yang terjadi, kota ini seakan akan memiliki daya pikat yang sangat memukau. Namun untukku? Hmm...  Entahlah... J
Seperti biasa, sore yang padat, sangat-sangat padat dan panas. Aku berdiri di tepi jalan mataku tajam mencari angkot yang akan mengantarkanku ke tempat yang aku tuju. Itu dia! Angkot berwarna telor asin yang kucegat ini lumayan lengang, senang hatiku J karna tak harus duduk berdesak-desakan.
Perjalananku pun berlanjut, kini aku harus melanjutkan menggunakan Trans Jakarta... kedengarannya alat transportasi ini begitu wah ya, tapi kenyataannya tak seperti yang di perkirakan. Aku menunggu.. menunggu.. dan menunggu... panas, lama, membuatku lusuh, kesal, terlebih jika ku ingat akan janji yang sedang menungguku.... “huft!” begitulah aku mengeluh... Dan pada akhirnya, bis yang kutunggupun datang, namun aku harus terima kenyataan bahwa dalam bis itu sudah sesak, tak ada tempat duduk. Mau tidak mau aku masuk, mengingat adanya janji dengan seseorang. Jika aku menunggu bis selanjutnya, entah kapan akan sampai...
Memang bis ini ber AC, Pria dan Wanita di pisah, Pria dari tengah ke belakang, dan Wanita di depan. Tapi tetap saja jika kondisinya seperti ini, yang penuh sesak, peraturan itu tak bisa di gubris, yang penting bisa masuk, cepat sampai tujuan, itu lah yang terbesit. Begitupula dengan diriku. Masa bodoh dengan aturan itu, yang penting aku bisa melanjutkan perjalanan dengan cepat. Karena begitu padatnya, AC pun tak terasa, panas bukan main, ditambah rasa pegal mendera... panjangnya perjalanan ini membuatku harus lebih bersabar dan terus bersabar...
Pada pemberhentian berikutnya aku turun, berjalan menuruni anak tangga, menemui seseorang yang telah sabar menanti kedatanganku. Telat.. ya, aku tak bisa tepat waktu, tapi syukurlah aku tak mendapat respon yang tidak sedap dari dirinya. Ya, Kali ini aku sangat beruntung J.
Sore telah berganti malam, kini saatnya aku menuju pemberhentian terakhir untuk hari ini... “Rumah”...
Lagi-lagi Trans Jakarta jadi pilihanku “mau tidak mau” karna tidak ada alternatif lain selain kendaraan ini menuju Rumahku. Akupun kembali menunggu, dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya.
Trans Jakarta ini melewati Monas, tugu itu terlihat sangat kokoh, indah dengan hiasan lampu warna warni... terlintas dalam benakku, sungguh miris, indahnya Ibukota ini tak bisa menjamin kenyamanan kami, kami yang tinggal di sini, dan mereka yang nekat ingin merasakan gemerlapnya kota ini...
 lamunanku buyar ketika petugas mengingatkan pemberhentian selanjutnya. Itu halte ku, aku pun bergegas keluar, menuruni anak tangga, mencari angkot, dan tak lama kemudian tibalah aku di rumah... rumah yang memberikanku kenyamanan.... sofa yang hangat, suara anak-anak, dan senyuman hangat Ibuku.. J. Selesai tugasku hari ini... saatnya lepaskan penat... karna esok pagi aku akan berjibaku kembali dengan berbagai carut marut yang ada diluar sana...
begitulah sekelumit ceritaku dengan kota yang sempit, yang bising, yang banjir bila hujan tiba, yang.. yang... ah, terlalu banyak bila ku sebutkan.. namun dibalik itu semua, aku tersadar, inilah kotaku, tempatku dilahirkan, tempatku mencari rezeki, tempatku bernaung... Jakarta!


Selasa, 16 Oktober 2012


*Syarat Utama*


“Nanti kalo pulangnya di jemput Dafi, suruh ke rumah ya, ada yang mau di omongin...”

Deg! Itulah ucapan Ibu saat aku menuruni anak tangga...

Dengan hati yang bercampur aduk, Aku beranikan diri bertanya...

“Memangnya mau nanya apa, Bu?” Perasaanku sudah tak karuan, mendengar jawaban yang akan dikatakan Ibu...

“Ga.. Ibu sekedar mau tes saja, seputar Shalat... Ibu ingin tau, apakah dia mengerjakan yang 5 waktu atau tidak. Ya.. meskipun dia keluaran dari Pesantren, ga menjamin kan... Soalnya kemaren Ibu dapet kabar dari kakak kamu, pas dia datang ke rumah, dia ga Shalat. Makanya Ibu mau tanya, dia bisa jawab apa ga...“

Aku langsung lemas seketika. Otakku berputar tentang penjelasan Ibu...  “Apakah harus Ibu menanyakan itu saat ini?”

“Ya! Ibu harus tanyakan ini secepatnya. Sebelum semuanya terlampau jauh..” kata-kata itu keluar dengan tegasnya dari mulut Ibu...

“Syarat utama adalah agama... ini adalah pondasi untuk memulai perjalanan hidup kalian. Jika yang menjadi dasar sudah rentan, bagaimana selanjutnya....” seketika hening menyelimuti...

“Ibu ingin kau bahagia, Ibu ingin kelak kau mendapatkan imam yang baik untukmu dan untuk anak-anakmu... Ibu hanya inginkan yang terbaik untukmu nak...”

Tak terasa air mata ku menetes mendengar penjelasan Ibu.. sungguh menyentuh hatiku... Ibu yang terlihat keras, namun jauh dilubuk hatinya Ia adalah sosok wanita yang lembut, penuh dengan kasih sayang...

“Ibu...” seketika aku memeluk tubuhnya... erat...

Dengan sedikit terisak, dan suara parau akibat ledakan emosi, aku berusaha mengatakan...“Terimakasih...”