*Inilah
Kotaku*
Kota
yang tak pernah lengang, Kota yang padat, Kota yang tingkat polusinya melebihi
kota-kota besar lainnya, Kota dengan tingkat kriminalitasnya tinggi, Kota
dengan... dengan... Namun kota ini memliki magnet bagi mereka yang tinggal di
daerah untuk berbondong-bondong menetap dan mengais rezeki, yang pada
kenyataannya apa yang mereka dapatkan tak seindah yang di bayangkan...
Ya!
Begitulah yang terjadi, kota ini seakan akan memiliki daya pikat yang sangat
memukau. Namun untukku? Hmm... Entahlah...
J
Seperti
biasa, sore yang padat, sangat-sangat padat dan panas. Aku berdiri di tepi
jalan mataku tajam mencari angkot yang akan mengantarkanku ke tempat yang aku
tuju. Itu dia! Angkot berwarna telor asin yang kucegat ini lumayan lengang,
senang hatiku J karna
tak harus duduk berdesak-desakan.
Perjalananku
pun berlanjut, kini aku harus melanjutkan menggunakan Trans Jakarta...
kedengarannya alat transportasi ini begitu wah ya, tapi kenyataannya tak
seperti yang di perkirakan. Aku menunggu.. menunggu.. dan menunggu... panas,
lama, membuatku lusuh, kesal, terlebih jika ku ingat akan janji yang sedang
menungguku.... “huft!” begitulah aku mengeluh... Dan pada akhirnya, bis yang
kutunggupun datang, namun aku harus terima kenyataan bahwa dalam bis itu sudah
sesak, tak ada tempat duduk. Mau tidak mau aku masuk, mengingat adanya janji
dengan seseorang. Jika aku menunggu bis selanjutnya, entah kapan akan sampai...
Memang
bis ini ber AC, Pria dan Wanita di pisah, Pria dari tengah ke belakang, dan
Wanita di depan. Tapi tetap saja jika kondisinya seperti ini, yang penuh sesak,
peraturan itu tak bisa di gubris, yang penting bisa masuk, cepat sampai tujuan,
itu lah yang terbesit. Begitupula dengan diriku. Masa bodoh dengan aturan itu,
yang penting aku bisa melanjutkan perjalanan dengan cepat. Karena begitu
padatnya, AC pun tak terasa, panas bukan main, ditambah rasa pegal mendera...
panjangnya perjalanan ini membuatku harus lebih bersabar dan terus bersabar...
Pada
pemberhentian berikutnya aku turun, berjalan menuruni anak tangga, menemui
seseorang yang telah sabar menanti kedatanganku. Telat.. ya, aku tak bisa tepat
waktu, tapi syukurlah aku tak mendapat respon yang tidak sedap dari dirinya.
Ya, Kali ini aku sangat beruntung J.
Sore
telah berganti malam, kini saatnya aku menuju pemberhentian terakhir untuk hari
ini... “Rumah”...
Lagi-lagi
Trans Jakarta jadi pilihanku “mau tidak mau” karna tidak ada alternatif lain
selain kendaraan ini menuju Rumahku. Akupun kembali menunggu, dan
berdesak-desakan dengan penumpang lainnya.
Trans
Jakarta ini melewati Monas, tugu itu terlihat sangat kokoh, indah dengan hiasan
lampu warna warni... terlintas dalam benakku, sungguh miris, indahnya Ibukota
ini tak bisa menjamin kenyamanan kami, kami yang tinggal di sini, dan mereka
yang nekat ingin merasakan gemerlapnya kota ini...
lamunanku buyar ketika petugas mengingatkan
pemberhentian selanjutnya. Itu halte ku, aku pun bergegas keluar, menuruni anak
tangga, mencari angkot, dan tak lama kemudian tibalah aku di rumah... rumah
yang memberikanku kenyamanan.... sofa yang hangat, suara anak-anak, dan
senyuman hangat Ibuku.. J.
Selesai tugasku hari ini... saatnya lepaskan penat... karna esok pagi aku akan
berjibaku kembali dengan berbagai carut marut yang ada diluar sana...
begitulah
sekelumit ceritaku dengan kota yang sempit, yang bising, yang banjir bila hujan
tiba, yang.. yang... ah, terlalu banyak bila ku sebutkan.. namun dibalik itu
semua, aku tersadar, inilah kotaku, tempatku dilahirkan, tempatku mencari
rezeki, tempatku bernaung... Jakarta!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar